Oleh : Dr. Yudi Indarto, Sp.OG

Kehamilan merupakan sesuatu yang membahagiakan dan didambakan oleh pasangan suami istri. Akan tetapi, menurut survey pada tahun 2015, angka kematian ibu di Indonesia masih tergolong tinggi, yaitu berkisar 305 per 100.000 kelahiran. Penyebab kematian ibu terbanyak adalah akibat komplikasi dalam kehamilan dan proses persalinan seperti hipertensi ,perdarahan, dan infeksi. Sebagian besar penyebab kematian ibu ini dapat dicegah dengan persiapan kesehatan fisik dan mental yang baik, sehingga kematian ibu dapat dihindari.

Dari data didapatkan 4 dari 10 wanita ternyata mengalami kehamilan yang tidak direncanakan, sehingga intervensi medis yang dapat diberikan menjadi terhambat dan terlambat. Oleh karena itu perencanaan kehamilan yang baik harus dimulai sebelum tes kehamilan dinyatakan positif atau periode prakonsepsi.

Prakonsepsi merupakan penggabungan 2 kata, yaitu pra yang berarti sebelum, konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur wanita dan sel sperma pria. Prakonsepsi dilakukan untuk mengidentifikasi dan memodifikasi resiko biomedis, mekanis dan sosial terhadap kesehatan wanita ataupun pasangan usia produktif yang berencana untuk hamil.

Pada prosedur prakonsepsi, tenaga medis akan melakukan tanya jawab, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang untuk mengidentifikasi resiko-resiko yang ada, guna untuk melakukan upaya preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Selama periode prakonsepsi ini pasangan sebaiknya mempersiapkan diri untuk meningkatkan kesehatannya supaya tingkat kesuburan meningkat, disamping itu juga membantu menurunkan risiko dan komplikasi kehamilan.  Kehamilan berisiko tinggi  biasanya terjadi karena faktor “4 Terlalu”, yaitu :Terlalu muda untuk hamil (kurang dari 20 tahun), Terlalu tua untuk hamil (lebih dari 35tahun), Terlalu sering hamil (anak lebih dari 3), Terlalu dekat atau rapat jarak kehamilannya (kurang dari 2 tahun)

Disamping memperhatikan faktor “4 Terlalu” tersebut diatas, disini kami mengidentifikasi 5 faktor yang juga perlu diperhatikan sebelum memulai kehamilan :

(1). Kesiapan Mental dan Finansial

Tingkat stress sebaiknya diturunkan pada kedua pasangan yang hendak merencanakan kehamilan. Mental yang sehat pada ibu hamil akan meningkatkan outcomes kehamilan dan menurunkan risiko komplikasi pada kehamilan. Kesehatan dan kesiapan mental suami juga sangat diperlukan karena suport dan perhatian suami akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan ibu hamil dan janin dalam kandungan. Apabila muncul keluhan depresi, kecemasan atau gangguan kejiwaan lainnya sebaiknya dikelola dan dikonsultasikan terlebih dahulu ke petugas kesehatan. Kesiapan finansial juga salah satu yang harus diperhitungkan dengan baik, karena merawat dan membesarkan anak tentu saja membutuhan biaya. Sehingga harapannya tidak ada lagi kasus-kasus kekerasan ataupun penelantaran anak.

(2). Diet yang seimbang dan Asam Folat.

Diet yang seimbang sebaiknya didasarkan pada makanan rendah kalori, sayuran, buah, gandum.  Susu, daging, ikan dan telur sebaiknya menjadi bagian dari diet. Gula , snack , dan makanan/minuman manis tidak perlu di hindari, tetapi sebaiknya jumlahnya dibatasi. Alkohol harus dihindari sepenuhnya. Dengan pengaturan diet yang seimbang , sebenarnya tidak diperlukan tambahan multivitamin selama periode prakonsepsi ini, kecuali asam folat. Asam folat ini sangat diperlukan untuk perkembangan tabung saraf janin, dimana pembentukan tabung saraf janin tersebut terjadi pada bulan-bulan pertama kehidupan. Contoh kelainan yang ditimbulkan oleh defek pada tabung saraf janin tersebut diantaranya anenchepaly, enchepalocele, meningocele dan spina bifida. Oleh karena hanya beberapa jenis makanan yang mengandung asam folat dan waktu perkembangan tabung saraf janin yang terjadi pada bulan pertama kehamilan, dimana sebagian besar ibu tidak menyadarinya, maka dari itu direkomendasikan untuk memulai konsumsi asam folat 4 minggu sebelum pembuahan.

(3). Berat badan yang ideal

Berat badan yang ideal adalah faktor yang sangat penting untuk kehamilan yang sehat. Berat badan yang ideal didefinisikan dengan Index Massa Tubuh ( IMT ) antara 18,5 sampai 25 kg/m². Berat badan berlebih ( Overwight ), didefinisikan sebagai Index Massa Tubuh ( IMT ) lebih dari 25 kg/m², berhubungan dengan peningkatan risiko diabetes, darah tinggi, preeklampsia selama kehamilan, dimana kondisi tersebut juga meningkatkan risiko kematian ibu, lahir kurang bulan, bayi besar. Overwight pada pria juga dihubungkan dengan rendahnya kadar testosteron dan kualitas sperma yang kurang baik yang akan berpengaruh terhadap kesuburan. Sementara itu erat badan ibu yang kurang ( underwight ) atau didefinisikan sebagai Index Massa Tubuh ( IMT ) kurang dari 18,5 kg/m², berhubungan dengan peningkatan risiko kematian janin dalam kandungan, hambatan pertumbuhan janin dan kelahiran prematur. Saran kami, untuk menurunkan komplikasi yang mungkin muncul selama kehamilan , baik pria maupun wanita sebaiknya menjaga berat badan yang ideal sebelum terjadi kehamilan.

(4). Aktivitas Fisik

Orang dewasa sebaiknya melakukan aktivitas fisik 20 – 40 menit perhari. Aktivitas fisik tidak selalu diartikan dengan olah raga,  hal tersebut juga termasuk berjalan, naik tangga, bersepeda ketempat kerja. Aktivitas fisik juga secara simultan menurunkan kejadian depresi dan resistensi insulin pada wanita dengan sindrom ovari polikistik/polycystic ovarian syndrome (PCOS).

(5). Pencegahan,`Deteksi dini dan Pengobatan Penyakit

Sebelum terjadinya kehamilan, terkadang ibu sudah menderita suatu penyakit tertentu baik yang disadari ataupun belum diketahui oleh ibu tersebut. Ibu hamil dengan infeksi tertentu juga berisiko terjadinya penularan secara vertikal dari ibu ke janin, seperti infeksi Hepatitis B, HIV, TORCH, Sifillis dsb. Ibu hamil dengan kelainan metabolik tertentu, sebagai contoh diabetes melitus, juga harus dilakukan kontrol gula darah sebaik mungkin untuk mencegah kejadian keguguran, cacat bawaan, kematian janin, bayi besar ataupun keterlambatan pematangan paru-paru janin.

Banyak obat-obatan yang sedang digunakan oleh ibu, ternyata tidak boleh digunakan selama kehamilan karena mempunyai efek teratogen  terhadap janin. Pada kondisi tertentu, bahkan ibu juga sangat tidak disarankan untuk hamil, kondisi tersebut antara lain hipertensi pulmonal, penyakit jantung risiko tinggi, penyakit pernafasan berat dan gangguan ginjal berat. Mengapa demikian, karena pada kondisi tersebut angka kematian ibu sangat tinggi. Penyakit-penyakit yang diturunkan oleh keluarga juga hendaknya mulai diidentifikasi  sebelum memulai kehamilan.

Oleh karena itu, setiap ibu yang memang mempunyai riwayat penyakit yang berpotensi menjadi penyulit dalam kehamilan, seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung ,penyakit paru, tiroid, riwayat kejang, infeksi atau sedang mendapatkan pengobatan, sebaiknya didiskusikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk hamil.

Dari uraian diatas mudah-mudahan dapat menjadi refleksi bagi pasangan yang hendak memulai kehamilan, apakah saat ini memang sudah layak atau belum untuk memulai kehamilan. Kerena proses kehamilan dan persalinan itu sendiri, pada hakikatnya sudah merupakan suatu proses yang berisiko.