
Oleh: Andry Putra Pratama, S.Psi., M.Psi., Psikolog
COVID-19 sudah banyak mengubah gaya hidup dan kebiasaan kita dalam dua tahun terakhir ini. Menurut Brooks dkk (2020), dampak psikologis akibat pandemi ini diantaranya gangguan stress pasca trauma, ketakutan akan tertular virus, kegelisahan, kebingungan, insomnia, frustasi dan merasa tidak berdaya. Adaptasi terhadap situasi baru memang tidak semudah yang dibayangkan, tetapi bukan berarti tidak bisa melakukannya. Membentuk kebiasaan baru, walaupun sulit, jika dilakukan secara sungguh-sungguh dan konsisten dapat terbentuk secara bertahap.
Individu seringkali merasa permasalahan yang dihadapi oleh dirinya sendiri tidak bisa tertangani. Sehingga menjadi pesimis, cemas, bingung, tidak mampu mengungkapkan, sampai tidak mampu untuk bertindak lagi. Ketidakmampuan coping stress dalam menghadapi konflik ini, dapat mengarah pada gangguan psikologis seperti paranoid, kecemasan berlebih, depresi, delusi, halusinasi, atau gangguan emosional. Kondisi psikologis yang tidak sehat juga dapat mempengaruhi semua aspek seseorang, seperti kognitif, perilaku, fisiologis, sampai kepada fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan yang terjadi pada seseorang kadang menimbulkan pertentangan dan ketidakpercayaan diri, hingga berujung menyalahkan diri sendiri, dan sampai sulit untuk menerima atau berdamai dengan diri sendiri.
Untuk itu, kita butuh suatu cara untuk bisa menghilangkan perasaan atau pikiran negatif yang muncul. Salah satu caranya dengan self talk. Menurut Burnett (1996) self talk merupakan teknik yang bertujuan untuk membantu mengubah pikiran-pikiran negatif yang muncul dalam diri seseorang menjadi pikiran-pikiran positif. Self talk adalah suatu cara untuk bisa ‘berdialog dengan diri sendiri’ dengan ucapan atau kata-kata yang terlintas dalam benak kita, bisa bersifat negatif maupun positif.
Self talk negatif akan mempengaruhi seseorang menjadi diri yang pesimis, tidak percaya diri, dan sifat lainnya yang tidak mengubahnya menjadi pribadi yang baik. Kata-kata yang termasuk self talk negatif misalnya: ‘aku bodoh!’, ‘aku tidak bisa’, ‘aku takut’, dsb. Sedangkan self talk positif adalah perkataan dalam diri seseorang yang bisa membantunya untuk tenang saat menghadapi suatu keadaan. Perkataan tersebut akan meningkatkan kepercayaan dirinya, sehingga tidak akan memperburuk situasi. Kata-kata yang termasuk self talk positif misalnya: ‘aku bisa!’, ‘aku harus semangat’, ‘aku berani’, dan kata-kata penyemangat lainnya yang bisa mendukung kondisi mentalnya tetap stabil.
Tentunya yang harus dikembangkan adalah self talk positif, dimana itu bisa merubah persepsi seseorang untuk bisa mengontrol dan membuat kondisi mentalnya semakin baik. Lalu bagaimana cara agar kita bisa terus menerapkan self talk positif dalam kehidupan kita?
Sebenarnya itu semua tergantung dari diri kita sendiri, apakah memang kita ingin memperbaiki cara pandang kita atau berubah menjadi pribadi yang lebih baik ataukah tetap tidak peduli dengan pikiran-pikiran negatif yang bermunculan di otak kita yang akan membuat kondisi mental kita semakin tertekan.
Apabila kita merasa tidak terbantu dengan self talk positif tersebut, maka dapat berkonsultasi ke tenaga profesional kesehatan mental, seperti psikolog maupun konselor.

