Oleh : Maria Renny K, S.Psi, M.Psi, Psikolog

Bullying adalah tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang, baik secara verbal, fisik, maupun psikologis sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tak berdaya (Sejiwa, 2008).

Jenis-jenis Bullying

Bullying Fisik
Memukul, mencekik, menyikut, meninju, menendang, menggigit, memiting, mencakar, serta meludahi anak yang ditindas hingga ke posisi yang menyakitkan, serta merusak dan menghancurkan pakaian serta barang-barang milik anak yang tertindas.

Bullying Verbal
Berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritik kejam, penghinaan, dan pernyataan-pernyataan bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual. Selain itu, penindasan verbal dapat berupa perampasan uang jajan atau barang-barang, telepon yang kasar, e-mail yang mengintimidasi, surat-surat kaleng yang berisi ancaman kekerasan, tuduhan-tuduhan yang tidak benar, kasak-kusuk yang keji, serta gosip.

Bullying Relasional
Sikap-sikap tersembunyi seperti pandangan yang agresif, lirikan mata, helaan napas, bahu yang bergidik, cibiran, tawa mengejek, dan bahasa tubuh yang kasar.

Cyber Bullying

  • Mengirim pesan yang menyakitkan atau menggunakan gambar
  • Meninggalkan pesan voicemail yang kejam
  • Menelepon terus menerus tanpa henti namun tidak mengatakan apa-apa (silent calls)
  • Membuat website yang memalukan bagi si korban
  • Si korban dihindarkan atau dijauhi dari chat room dan lainnya
  • “Happy slapping” – yaitu video yang berisi dimana si korban dipermalukan atau di-bully lalu disebarluaskan

Bullying Seksual
Bullying seksual terjadi saat korban disentuh pada bagian-bagian pribadinya, ataupun dipanggil dengan panggilan yang tidak senonoh. Perundungan seksual tak hanya menjadi ancaman bagi anak perempuan saja, tak jarang anak lak-laki juga menjadi korban perundungan seksual.

Prejudice Bullying
Perundungan jenis ini macam-macam bullying yang didasari pada prasangka pelakunya terhadap seseorang dari ras, agama, atau suku. Anak yang menjadi korban perundungan prasangka ini biasanya memiliki ciri sosial dan budaya yang berbeda dengan kelompok mayoritas di sekitarnya.Korban perundungan prasangka tak hanya diolok-olok dengan ciri sosial dan budaya yang melekat padanya, namun juga dikucilkan secara sosial.

Penyebab Bullying

  1. Pernah menjadi korban kekerasan di rumah
  2. Tidak percaya diri
  3. Terlalu dibebaskan oleh orangtua
  4. Ingin menjadi populer
  5. Tidak memiliki rasa empati
  6. Kurang mendapatkan perhatian di rumah
  7. Senang mengejek orang lain

Dampak Psikologis Anak yang Terkena Bullying

  1. Panicattack atau serangan panik
  2. Depresi
  3. PTSD (Post Traumatic Syndrome Disorder)
  4. Mengalami gangguan kecemasan/anxiety disorder

Tanda-tanda Anak yang Mengalami Bullying

  1. Menolak masuk sekolah dengan beragam alasan.
  2. Malas mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.
  3. Menarik diri dari pergaulan.
  4. Kurang tertarik melakukan berbagai aktivitas, termasuk hobinya.
  5. Keluhan fisik, yang tak ada bukti medisnya. Paling sering: sakit kepala, sakit perut.
  6. Mengalami kecemasan berlebihan.
  7. Mudah marah untuk hal-hal sederhana, terlalu sensitif.
  8. Mengalami mimpi buruk dengan tema-tema pertemanan.
  9. Di sekolah menolak pergi ke tempat-tempat tertentu.

Orang tua bisa Membantu Mencegah Bullying di Sekolah Anak dengan Cara

  1. Ajari anak-anak Anda tentang bullying. Begitu mereka tahu apa itu bullying, anak-anak Anda akan dapat mengidentifikasinya dengan lebih mudah, apakah itu terjadi pada mereka atau orang lain.
  2. Bicaralah secara terbuka dan sering kepada anak-anak Anda. Semakin sering Anda berbicara dengan anak-anak Anda tentang bullying, semakin nyaman mereka memberi tahu Anda jika mereka melihat atau mengalaminya.
  3. Bantu anak Anda agar menjadi panutan yang positif. Ada tiga pihak yang terlibat dalam bullying: korban, pelaku, dan saksi. Bahkan jika anak-anak Anda bukan korban bullying, mereka dapat mencegah bullying dengan bersikap positif, hormat, dan baik kepada teman sebayanya. Jika mereka menyaksikan bullying, mereka dapat membela korban, menawarkan dukungan, dan atau mempertanyakan perilaku bullying yang terjadi.
  4. Membantu membangun kepercayaan diri anak Anda. Dorong anak Anda untuk mengikuti kelas atau bergabung dengan kegiatan yang ia sukai di lingkungan Anda atau di sekolahnya.
  5. Jadilah teladan. Tunjukkan pada anak Anda bagaimana memperlakukan anak-anak lain dan orang dewasa dengan kebaikan dan rasa hormat, serta melakukan hal yang sama kepada orang-orang di sekitar Anda, termasuk cobalah membela ketika orang lain diperlakukan dengan tidak baik. Anak-anak melihat orang tua mereka sebagai contoh bagaimana cara berperilaku, termasuk memposting secara online.
  6. Jadilah bagian dari pengalaman online mereka. Biasakan diri Anda dengan platform yang digunakan anak Anda, jelaskan kepada anak Anda bagaimana dunia online dan dunia offline terhubung, dan peringatkan mereka tentang berbagai risiko yang akan mereka hadapi secara online.

Daftar Pustaka :

    • Tim Sejiwa. (2008). Bullying: Panduan bagi Orang Tua dan Guru Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan. Jakarta: Grasindo
    • https://www.unicef.org/indonesia/id/cara-membicarakan-bullying-dengan-anak-anda