Apa itu digital self-harm?
Digital self-harm atau menyakiti diri sendiri secara digital adalah bentuk pelecehan psikologis baru yang terutama terjadi pada remaja dan lebih populer di kalangan anak laki-laki. Meskipun penganiayaan lebih terfokus pada kekerasan emosional dibandingkan kekerasan fisik, penganiayaan tersebut diperkirakan berasal dari konsep berpikir yang sama.
Digital self-harm relatif umum terjadi di kalangan siswa SMP & SMA. Sebuah studi penelitian tahun 2017 yang didokumentasikan dalam Journal of Adolescent Health mengeksplorasi pengalaman 5.500 siswa berusia antara 12 dan 17 tahun. Di antara temuan survei tersebut adalah sebagai berikut:
- Sekitar 35% telah melakukan tindakan menyakiti diri sendiri secara digital setidaknya beberapa kali.
- 13% mengatakan mereka telah melakukan hal tersebut berkali-kali.
- Korban cyberbullyinglebih cenderung melakukan tindakan self-trolling.
- Anak laki-laki lebih cenderung melakukan self-trollingdibandingkan anak perempuan.
- Perilaku tersebut berkorelasi dengan masalah perilaku, tindakan menyakiti diri sendiri secara fisik, penyalahgunaan zat, dan gejala depresi.
Bagaimana digital self-harm dapat mempengaruhi kesehatan?
Digital self-harm dapat memengaruhi kesehatan fisik dan emosional, seperti harga diri dan kepercayaan diri, serta menjadi tanda memburuknya kesehatan mental seseorang. Para ahli menemukan bahwa digital self-harm sering kali menjadi faktor risiko, seperti depresi, kecemasan, gangguan makan, nilai akademik yang buruk, serta masalah penyalahgunaan zat. Sebuah studi yang mengamati perilaku remaja menemukan bahwa remaja yang memposting tindakan menyakiti diri sendiri secara online memiliki kemungkinan 5-7 kali lebih besar mempunyai ide untuk bunuh diri, dan 9-15 kali lebih besar untuk mencoba bunuh diri.
Bagaimana cara menghentikan atau mencegah digital self-harm?
Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah digital self-harm dan mencari bantuan yang tepat, seperti:
- Blokir akun palsu atau anonim yang mereka gunakan untuk merugikan diri mereka sendiri.
- Lacak atau pantau aktivitas internet anak kita, seperti situs web dan layanan streaming apa yang mereka gunakan, terutama jika mereka berusia 13 tahun ke bawah. Ada beberapa aplikasi untuk memantau aktivitas digital anak.Kita juga perlu membatasi waktu dalam aktivitas digital anak.
- Sediakan waktu untuk mendengarkan keluh kesah mereka tanpa menghakimi atau memberi nasehat yang seakan menyudutkan mereka.
- Bisa menghubungi psikolog klinis maupun konselor kesehatan mental untuk dapat memberikan terapi dan/atau konseling terkait kesehatan mantal.

