
Oleh : Dr. Santo Mudha Pratomo, Sp. THT-BKL
Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi yang banyak dijumpai, tetapi karena tidak bersifat fatal maka sementara ini belum mendapat perhatian yang serius baik dari penderita maupun petugas kesehatan. Prevalensi rinitis alergi terus meningkat pada dekade terakhir, dan menjadi masalah kesehatan dunia yang harus mendapat perhatian, terutama di negara-negara berkembang. Prevalensinya antara 10-30% dari populasi dunia atau terjadi pada lebih dari 400 juta orang di seluruh dunia. Data epidemiologik secara nasional belum didapatkan di Indonesia. Angka yang ada biasanya di dasarkan pada kejadian di Rumah sakit atau dari survey yang tidak cukup menggambarkan kejadian di seluruh masyarakat.
Rinitis alergi adalah reaksi inflamasi dari mukosa hidung yang diperantai oleh IgE yang ditandai kongesti/obstruksi hidung, rinorea, gatal hidung dan atau gatal mata dan atau bersin
Diagnosis ditegakkan berdasarkan wawancara, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Wawancara dimulai dengan riwayat penyakit secara umum dan dilanjutkan dengan pertanyaan yang lebih spesifik meliputi gejala di hidung termasuk keterangan mengenai tempat tinggal / kerja dan pekerjaan penderita.
Gejala-gejala rinitis alergi adalah : – Bersin (lebih dari 5 kali setiap kali serangan), rinore (ingus bening encer), – Hidung tersumbat (menetap/ berganti-ganti), gatal di hidung, tenggorok, langit-langit atau telinga. Kadang disertai : Mata gatal, berair atau kemerahan, hiposmia / anosmia, posterior nasal drip atau batuk kronik Frekuensi serangan, beratnya penyakit, lama sakit, intermiten atau persisten. Pengaruh terhadap kualitas hidup seperti adakah gangguan terhadap pekerjaan, sekolah, tidur dan aktifitas sehari-hari. Komorbid di organ lain sebelum atau bersamaan dengan rinitis alergi Rinosinusitis, asma bronkhial, eosinofilik otitis media, hipertrofi tonsil adenoid, dermatitis atopik, urtikaria, alergi makanan.
Riwayat atopi atau alergi di keluarga Apakah ada anggota keluarga (ayah, ibu, saudara sekandung) yang pernah menderita salah satu penyakit alergi tersebut diatas (Riwayat atopik keluarga). Faktor pemicu timbulnya gejala rinitis alergi Lingkungan misalnya polutan, asap rokok, udara dingin, polutan, bau kimia seperti parfum, bau deodoran dan olah raga. Selain itu terdapat juga hipersensitifitas dan hiperesponsif. Riwayat pengobatan dan hasilnya Efektifitas obat yang dipergunakan sebelumnya dan macam pengobatan yang sudah diterima dan kepatuhan berobat.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya edem atau bengkak dari konka inferior / media yang diliputi sekret encer bening, mukosa pucat. Keadaan anatomi hidung lainnya seperti septum nasi. Tidak menutup kemungkinan adanya polip nasi.
Terdapat tanda khas penderita rinitis alergi: Allergic shinner: warna kehitaman pada orbita dan palpebral, Nasal crease/linea nasalis : Penebalan serta timbulnya skar pada hidung, Allergic shalutte: biasanya terdapat pada anak, hal ini karena anak mencoba mengurangi rasa gatal di hidung.
Pemeriksaan penunjang untuk mengetahui jenis alerginya yaitu : Tes Kulit Tusuk (Prick test), Intradermal skin test / Skin End Point Titration Test, IgE serum spesifik, IgE serum total, Pemeriksaan sitologis hidung,, Test provokasi hidung/ nasal challenge test.
Pedoman penatalaksanaan RA sebagian besar didasarkan pada konsep dokumen ARIA ( Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) yang disusun berdasarkan atas inisiatif kelompok kerja WHO. Konsep semacam guidelines untuk penatalaksanaan rinitis alergi ini disesuaikan dengan kemungkinan fasilitas yang ada di berbagai RS di Indonesia.
Tujuan pengobatan rinitis alergi adalah : 1. Mengurangi gejala akibat paparan alergen, hiperreaktifitas nonspesifik dan inflamasi. 2. Perbaikan kualitas hidup penderita sehingga dapat menjalankan aktifitas seharihari. 3. Mengurangi efek samping pengobatan 4. Edukasi penderita untuk meningkatkan ketaatan berobat dan kewaspadaan terhadap penyakitnya 5. Merubah jalannya penyakit/ pengobatan kausal
Untuk mencapai tujuan pengobatan rinitis alergi, dapat ditempuh dengan terapi kombinasi antara cuci hidung, antihistamin, dekongestan, sodium kromolin, kortikosteroid intranasal.
Terpenting dari pengobatan rhinitis alergi ini adalah Avoidance atau menghindari factor pencetus, sehingga gejala atau keluhan rhinitis alergi ini dapat dicegah.

