Antibiotik adalah golongan obat yang bisa membunuh bakteri. Macamnya cukup banyak, dan masing-masing memiliki spesifikasi dan potensi terhadap jenis bakteri tertentu. Ketika seseorang pasien didiagnosa terkena infeksi bakteri, maka dokter akan memilihkan antibiotik yang sesuai dengan kondisi pasien berdasarkan jenis penyakit, macam bakteri penginfeksi, dan sensitivitas kuman terhadap antibiotik.

Penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan dan merupakan ancaman terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik. Kuman resisten antibiotik tersebut terjadi akibat penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan tidak rasional. Oleh karena itu, antibiotik harus digunakan secara tepat dan efektif. Agar antibiotik dapat digunakan secara tepat dan efektif, maka perlu dilakukan evaluasi dan pengawasan dalam penggunaannya.

Seperti apa penggunaan antibiotika yang tidak tepat? Jika digunakan selain untuk infeksi bakteri maka antibiotika tidak lagi bermanfaat, tetapi justru akan menimbulkan resiko. Bakteri adalah organisme yang memiliki daya adaptasi yang tinggi, sehingga bisa resisten terhadap paparan antibiotik. Alih-alih terbunuh, sebagian dari mereka justru berkembang menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut. Itulah yang dinamakan resistensi antibiotik.

Contoh penggunaan antibiotika yang tidak tepat dan memicu resistensi antibiotik antara lain : penggunaan antibiotika berlebihan / tidak sesuai indikasi dan penggunaan antibiotika yang terputus / tidak habis.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menekan kejadian resistensi antibiotik, yaitu :

  1. Jangan mengasumsikan suatu keluhan sebagai infeksi dan mencoba mengobati sendiri dengan antibiotik hanya karena riwayat peresepan antibiotik sebelumnya.Misalnya pada kasus demam. Tidak semua gejala demam adalah tanda terjadinya infeksi bakteri. Jika keluhan demam berlanjut lebih dari 3 hari, sebaiknya konsultasi kepada dokter.
  2. Dapatkan antibiotik hanya dengan resep dokter dan ikuti petunjuk penggunaan dari Dokter atau Apoteker.
  3. Antibotik harus tetap diminum rutin sesuai resep dokter sampai habis dan tidak disimpan sebagai persediaan obat di rumah. Tidak disarankanmemberikan sisa antibiotik kepada orang lain.
  4. Tanyakan kepada Dokter atau Apoteker jika membutuhkan informasi terkait antibiotik.