
Oleh : Dr. Raissa Vaniana Hartanto, Sp.M
Dry eye syndrome merupakan masalah cukup penting dalam kesehatan masyarakat yang menyebabkan rasa tidak nyaman di mata, lelah dan gangguan penglihatan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Dry eye syndrome merupakan penyakit multifactorial karena gangguan produksi air mata dan evaporasi air mata yang berlebihan akibat disfungsi kelenjar meibom. Dry eye syndrome merupakan masalah yang sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki, terutama di usia lanjut.
Hal ini menimbulkan beberapa gejala yaitu kering dan rasa berpasir pada mata. Gejala tambahan seperti rasa panas atau gatal, sensasi benda asing, air mata berlebih, nyeri, mata kemerahan, silau terhadap cahaya, penglihatan kabur, kelopak mata berat dan mata lelah. Keluhan sering memberat pada lingkungan berasap atau lingkungan kering, ruangan panas, dan aktivitas lama di depan komputer atau membaca lama.
Ketidakstabilan lapisan air mata ini dapat juga diprakarsai oleh beberapa penyebabnya, termasuk alergi mata, penurunan hormon saat masa kehamilan ataupun perubahan hormon yang terkait penyakit tiroid, peradangan kelopak mata (blepharitis), penggunaan obat (seperti obat psikiatri, obat flu yang dijual bebas, anti-alergi, pereda nyeri, obat tidur, obat golongan diuretik, obat kontrasepsi oral), Sindrom Sjogren, gangguan autoimun (Lupus, Rheumatoid Arthritis), paparan bahan kimia/cedera pada mata,sering menatap layar komputer atau video games, lingkungan (yang berdebu, berangin, panas/kering), penggunaan lensa kontak, kondisi neurologis (Stroke, Bell’s palsy, Parkinson, disfungsi saraf trigeminal, kelopak mata tidak dapat menutup (lagophthalmos), pasca operasi refraktif (LASIK / PRK), kondisi mata inflamasi dan kekurangan vitamin A.
Sindrom mata kering dapat didiagnosis melalui pemeriksaan mata yang komprehensif. Pengujian, dengan penekanan khusus pada evaluasi kelopak mata dan permukaan depan bola mata, termasuk pengukuran dan evaluasi produksi air mata. Pemeriksaan menyeluruh di Dokter Spesialis mata sangat penting untuk mengetahui penyebab spesifik mata kering sehingga penanganan yang dilakukan juga tepat. Penanganan dry eye syndrome bisa dengan di kompres air hangat, lalu menggunakan obat tetes mata topikal seperti air mata artifisial, dapat digunakan empat kali sehari atau pada keadaan lebih parah bisa hingga 10-12 kali. Untuk kasus berat dapat menggunakan air mata serum autologus, air mata buatan yang dicampur dengan serum pasien, dan juga terapi Intense Pulsed Light (IPL). Komplikasi tahap lanjut dari dry eye syndrome adalah keratitis, ulkus dan selanjutnya bahkan dapat menimbulkan kebutaan.

