Oleh: Dr. Ridha Wahyutomo, Sp.MK, FISQua
Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Laboratorium RS Mardi Rahayu

Yunani dikenal sebagai salah satu peradaban tua dunia meninggalkan catatan sejarah yang masih dipakai hingga saat ini, di anataranya adalah deret alfabet. Pada masa pandemi COVID-19, abjad demi abjad digunakan oleh WHO sebagai nama-nama varian mutasi COVID-19. Kudus pun pernah “tenar” pada bulan Juni 2021 setelah dihantam badai varian Delta dan dengan heroik berhasil mengatasinya.

Menjelang akhir tahun 2021 ini, WHO mengumumkan varian baru yang diberi nama Omicron. Setelah sebelumnya ada varian Mu. Agak unik sebenarnya jika melihat urutan abjad alpha, beta, gamma, delta, epsilon, zeta,eta, theta, iota, kappa, lambda, mu, nu, xi, omicron, pi, rho, sigma, tau, upsilon, phi, chi, psi, dan omega. Setelah Mu seharusnya Nu, tetapi karena terdengar sebagai “NEW” atau baru maka agar tidak membingungkan tidak dipakai. Lalu aksara Xi juga dilewati karena nama tersebut bisa disalahartikan sebagai nama marga di Tionghoa.

Hingga saat tulisan ini ditata, WHO melalui situs resminya www.who.int memberikan beberapa penjelasan tentang varian Omicron sebagai berikut:

  1. Dari sisi penularan belum terbukti pasti penularan antar manusia lebih cepat dibandingkan varian lain, termasuk varian Delta. Memang hasil tes PCR menunjukkan peningkatan hasil positif pada para pasien di Afrika Selatan. Telaah epidemiologi masih terus dilakukan untuk memastikan bahwa varian Omicron yang terlibat atau ada factor lain seperti vaksinasi yang cakupannya rendah. Hanya 102 juta orang, atau 7,5% dari populasi, yang divaksinasi lengkap. Lebih dari 80% populasi masih perlu menerima dosis pertama.
  2. WHO masih terus menerus memantau derajat keparahan yang ditimbulkan mutasi ini termasuk jika dibandingkan dengan infeksi varian lain, termasuk Delta. Saat ini tidak ada informasi yang menunjukkan bahwa gejala yang terkait dengan Omicron berbeda dari varian lainnya. Infeksi awal yang dilaporkan terjadi di antara individu yang lebih muda yang cenderung memiliki penyakit yang lebih ringan.

Meskipun belum diumumkan secara pasti mengenai penularan dan keparahan infeksi, namun WHO tetap menempatkan varian Omicron sebagai Variant of Concern (VOC), yaitu varian yang berpotensi menyebabkan keparahan infeksi dan kematian.

Hal terpenting dari apapun variannya, strateginya tetap protokol kesehatan yang meliputi menjaga jarak fisik minimal 1 meter dari orang lain, memakai masker dengan benar dan tepat, mengatur ventilasi udara yang baik, menghindari ruangan yang berventilasi buruk atau padat orang, menjaga tangan tetap bersih dengan mencuci tangan, menerapkan etika batuk atau bersin dengan cara membatukkan datu bersin ke siku maupun tisu, dan mendapatkan vaksinasi.