Kesehatan reproduksi, menurut WHO, mencakup keadaan fisik, mental, dan sosial yang utuh, bukan sekadar bebas dari penyakit atau kecacatan. Kesehatan reproduksi berpengaruh besar terhadap kualitas generasi, termasuk dampaknya pada aspek ekonomi dan sosial masyarakat.

Pada wanita, salah satu organ reproduksi yang penting adalah leher rahim atau serviks, yang berperan dalam pembuahan, perlindungan dari infeksi, dan menopang kehamilan. Namun, leher rahim rentan terhadap kanker, yang menjadi kanker terbanyak kedua setelah kanker payudara, dengan kontribusi 9,2% dari kasus kanker pada wanita di dunia (Globocan, 2020). Penyebab utamanya adalah infeksi human papilloma virus (HPV), yang menyebar melalui kontak langsung.

Faktor resiko terjadinya kanker leher rahim aktivitas seksual pada usia muda (<18 tahun), berhubungan seksual dengan multipartner, merokok, sosial ekonomi rendah, pemakaian pil KB, penyakit menular seksual, dan gangguan imunitas.

Gejala kanker leher rahim biasanya tidak muncul pada tahap awal, tetapi pada kondisi lanjut bisa menyebabkan perdarahan abnormal dari jalan lahir, seperti mesntrutasi yang lama, perdarahan setelah bersenggama, mudah berdarah saat disentuh, atau perdarahan setelah menopause. Selain itu penderita juga dapat mengeluhkan gejala seperti nyeri panggul, keputihan yang berbau, hingga penurunan berat badan drastis. Meski demikian, kanker ini dapat dicegah dan diatasi sejak dini dengan langkah-langkah sederhana dan terjangkau.

Langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut:

  1. Menjaga kebersihan organ reproduksi, menjalani gaya hidup sehat, serta melakukan hubungan seksual yang aman.
  2. Melakukan vaksin HPV yang tersedia di Puskesmas, bahkan telah menjadi program pemerintah untuk anak usia sekolah. Vaksin ini dapat diberikan dari usia 9 – 45 tahun. Anda tidak perlu khawatir, karena vaksin ini terbukti aman.
  3. Rutin melakukan deteksi dini seperti IVA test, Pap smear, atau tes DNA HPV, terutama bagi wanita usia 30-50 tahun atau yang sudah aktif secara seksual.

Prosedur Iva Test dilakukan dengan mengoleskan asam cuka pada leher rahim Anda, hasil mengarah ke kanker jika jaringan yang di oleh berubah warna menjadi putih. Sedangkan proseder papsmear dilakukan dengan mengambil kerokan dan di cermati di bawah mikroskop. Akan tampak gambaran sel yang tumbuh tidak normal jika mengarah ke kanker. Pemeriksaan HPV DNA merupakan baku emas untuk deteksi infeksi HPV dengan prosedur yang mirip dengan papsmear. Apabila saat deteksi dini ditemukan kecurigaan ke arah kanker, dokter akan merekomendasikan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Namun jika tidak ada kecurigaan, deteksi dini dapat dilakukan 3-5 tahun sekali.

Dengan langkah-langkah ini, kita dapat mencegah kanker leher rahim dan memastikan kesehatan reproduksi tetap terjaga. Ajak keluarga dan kerabat untuk bersama-sama menjaga kesehatan, karena mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Salam sehat!