Oleh : Dr. Kristia Wardani, Sp.PD

Oleh : Dr. Kristia Wardani, Sp.PD

Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah >140/90mmHg, dan sering disebut sebagai ‘silent killer’ karena sering kali tidak menunjukkan tanda dan gejala apapun pada pengidapnya. Hanya sedikit orang yang menunjukkan tanda dan gejala yang berupa nyeri kepala, muntah dan kadang mimisan. Pengobatan terhadap hipertensi diberikan untuk mencapai target ideal tertentu yaitu <140/90 mmHg dan target optimal sesuai batasan usia tertentu, yaitu <130/80 mmHg pada pasien berusia <65 tahun, dan <140/90 mmHg bila usia >65 tahun.

Perlu tidaknya hipertensi dikontrol sering kali menjadi pertanyaan. Hipertensi yang tidak menunjukkan tanda dan gejala seringkali diabaikan oleh penderitanya padahal di balik tekanan darah yang tinggi dan tidak terkontrol akan menimbulkan banyak kerusakan pada organ tubuh seperti kerusakan pembuluh darah dan jantung.

Kerusakan pembuluh darah dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang berakibat pada terjadinya serangan jantung koroner, stroke, turunnya aliran darah pada ginjal yang berakibat pada gagal ginjal, rusaknya pembuluh darah mata yang berkakibat pada rusaknya retina mata yang diikuti dengan kebutaan dan gangguan pembuluh darah pada organ seksual. Tekanan darah yang tinggi juga dapat menyebabkan pembuluh darah menjadi rentan untuk pecah maupun menyebabkan terbentuknya pembuluh darah baru yang rentan pecah, dan mudah mengkibatkan perdarahan, khususnya pada otak dan retina mata.

Selain kerusakan pembuluh darah, hipertensi tidak terkontrol juga dapat menyebabkan kerusakan jantung, yang menyebabkan jantung memerlukan usaha yang lebih besar untuk bekerja, sehingga jantung akan membesar dan berisiko untuk mengalami kegagalan jantung.

Dengan banyaknya akibat yang dapat ditimbulkan dari tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, diharapkan penderita dapat lebih peduli akan kontrol tekanan darahnya. Baik, melalui pola hidup sehat maupun obat anti-hipertensi, serta dengan rutin mengevalusi tekanan darahnya.

Artikel Kesehatan Oleh : Dr. Kristia Wardani, Sp.PD