Oleh: Dr. Susilorini, Sp.A

Diare sebagai penyebab penting sakit dan kematian anak di Indonesia terutama diakibatkan infeksi saluran cerna oleh rotavirus atau bakteri. Umumnya diare ditularkan melalui makanan/minuman yang tercemar kuman, tangan/barang yang tercemar tinja penderita, atau melalui lalat. Risiko diare meningkat bila ASI tidak diberikan penuh sampai bayi berumur 4-6 bulan dan ketersediaan air bersih atau sarana MCK tidak memadai.

Penanganan utama diare adalah untuk mencegah dehidrasi dan gangguan pertumbuhan akibat diare. Dehidrasi karena kehilangan cairan dan elektrolit yang tidak terganti secara cukup dapat ditangani dan dicegah secara efektif dan aman menggunakan cairan rehidrasi oral (oralit).

Ada 3 kategori dehidrasi, yaitu tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan sedang, dan dehidrasi berat. Dehidrasi berat adalah kekurangan cairan setara penurunan berat badan > 10%, sedangkan dehidrasi ringan sedang setara 5-10%. Tanda dehidrasi berat adalah anak sangat lemas, kadang kesadaran menurun, kelopak mata sangat cekung, tidak terlihat air mata saat menangis, bibir lidah sangat kering, anak malas minum/tidak dapat minum dan turgor kembali sangat lambat. Tanda dehidrasi ringan sedang adalah anak rewel, gelisah, kelopak mata cekung, air mata sedikit, bibir lidah kering, anak tampak haus dan turgor kembali lambat.

Rehidrasi bertujuan mengganti kekurangan cairan dan elektrolit secara cepat dan mencegah gangguan nutrisi. Pada anak tanpa dehidrasi, orangtua harus mencegah dehidrasi dengan memberikan cairan lebih banyak atau memberikan oralit sebanyak 5-10 ml/kgBB setiap buang air besar cair sampai diare berhenti, tetap memberikan makanan sesuai umur anak, dan segera membawa anak ke petugas kesehatan bila diare tidak membaik dalam 3 hari atau bila diare makin sering, tinja makin cair, muntah makin sering, anak sangat haus, demam tinggi, atau tinja berdarah.

Anak dengan dehidrasi ringan sedang sebaiknya dipantau di ruang rawat sehari dan diberi oralit sedikit demi sedikit sebanyak 75ml/kgBB selama 3 jam. Bila anak muntah, tunggu sebentar kemudian pemberian oralit dilanjutkan dengan lebih lambat. Bila kelopak mata bengkak, oralit dihentikan dan diberikan air matang atau ASI. Setelah bengkak hilang, oralit diberikan sesuai derajat tanpa dehidrasi. Pada intoleransi laktosa, ASI tetap diteruskan atau diberikan susu bebas laktosa pada bayi yang mendapat susu formula.

Anak dengan dehidrasi berat harus dirawat di rumah sakit dan mendapat cairan rehidrasi melalui infus. Larutan oralit diberikan begitu anak dapat minum, dan bayi yang tidak mendapat ASI dapat diberi susu formula bebas laktosa.

Penanganan tambahan diare adalah pemberian zinc dan probiotik. Zinc membantu mencegah infeksi saluran cerna, menurunkan angka kejadian, durasi dan kekambuhan diare serta mengurangi penggunaan antibiotika. Sementara itu, probiotik membantu mengurangi frekuensi dan lamanya diare dengan mengatasi gangguan flora saluran cerna.